Selasa, 01 Mei 2018

Suharto, Ahli Strategy Terbaik Yang Pernah Dimiliki Bangsa Indonesia.


Mungkin tidak ada peristiwa yang lebih menunjukan kehebatan Pak Harto dalam berstrategi dalam aksinya menumpas PKI dan G30S/PKI, terutama karena pada saat memulai Pak Harto adalah seorang jenderal tanpa pasukan. Perlu diketahui bahwa ketika peristiwa G30S Kostrad belum memiliki komando pasukan yang memadai. Bahkan lebih dari 50 batalyon pasukan Angkatan Darat sedang ditempatkan di Sumatra dan Kalimantan dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia,  sementara di pihak lawan memiliki 2000 pasukan dari divisi Brawijaya dan Diponegoro ditambah ribuan sukarelawan Pemuda Rakyat dan Gerwani dan seluruh Angkatan Udara Republik Indonesia yang mana Panglimanya, Omar Dhani adalah juga panglima seluruh pasukan angkatan darat di Sumatra dan Kalimantan. Pada saat itu Pak Harto hanya memiliki satu keyakinan untuk memenangkan pertarungan. Hal ini didasari oleh pengalamannya sebagai veteran perang kemerdekaan Indonesia. Keputusan Pak Harto untuk menunggu kepastian tentang selamat atau tidaknya Jenderal Nasution juga menjadi kunci kemenangannya dalam menambah kekuatan didalam pasukannya.

Pada tanggal 1 Oktober 1965, satu-satunya pasukan yang tersedia bagi Pak Harto dalam waktu singkat adalah RPKAD pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Akan tetapi menarik RPKAD ke kubu Kostrad bukanlah perkara mudah sebab secara hierarki komando, RPKAD berada di bawah naungan Menpangad/KOTI dan secara hubungan pribadi Sarwo Edhie adalah bagian dari klik Ahmad Yani dan hanya setia kepada Amad Yani. Tidak heran apabila kemudian Sarwo Edhie tidak langsung menjawab panggilan Pak Harto untuk masuk ke Kostrad, melainkan setelah kondisi semakin tidak menentu barulah Sarwo Edhie datang menghadap ke Kostrad.


Usaha kedua mendapatkan pasukan adalah dengan menarik kesetiaan pasukan brawijaya dan Diponegoro yang dimanipulasi PKI. Saat itu hanya Brawijaya yang bersedia bergabung dengan kostrad sedangkan komandan Diponegoro yang mempunyai kesetiaan kepada Letkol Untung karena mereka kawan lama menolak dengan tegas dan kemudian mundur ke Halim. Sementara itu Pak Harto juga berhasil mengamankan kerja sama dengan Angkatan Kepolisian, dan Angkatan Laut melalui Jenderal AH Nasution. Keputusan brilian Pak Harto yang membiarkan RRI dikendalikan G30S untuk memancing mereka membuka jati diri mereka. Siaran Letkol Untung yang mendemisioner kabinet Dwikora, menurunkan pangkat hingga setingkat dibawah Letkol dan mengambil alih kekuasaan tertinggi kepada Letkol Untung dan Dewan Revolusinya malah membuat peluang kemenangan Pak Harto menjadi semakin besar. Keputusan Pak Harto ini terbukti cukup brilian. KKO pun merasa bila G30S telah mengkudeta Sukarno dan mereka merasa terpanggil untuk mengamankan kedudukan Sukarno sebagai presiden dan bergabung dibawah komando Pak Harto.


Selanjutnya Divisi Diponegoro-pun bergabung dengan Kostrad setelah RRI dikuasai dan Halim diserang RPKAD yang menandai berakhirnya G30S karena semua pemimpin gerakan berpencar dan memulai mencari tempat persembunyian masing-masing. Saat itu Pak Harto benar-benar dengan lihai mengamalkan strategi Jawa, menang tanpa pasukan.


Pasca G30S bukan berarti Pak Harto bisa tenang, sebab walaupun sudah dapat dipastikan PKI sudah habis dan tidak ada tempat untuk hidup di Indonesia, namun situasi saat itu menjadi lebih rumit karena terdapat semacam kebingungan yang disebabkan menjadi komunis diasosiasikan dengan menjadi Soekarnois yang timbul akibat ajaran Nasakom. Bagi para Soekarnois, menghancurkan PKI berarti menghancurkan ajaran Soekarno yang dapat dipastikan akan membangkitkan perlawanan para Soekarnois, dan tentara yang Soekarnois jumlahnya jauh lebih banyak daripada pasukan yang dimiliki Pak Harto, belum lagi mengingat kewenangan komando Pak Harto sempat diputus Soekarno ketika mengangkat Pranoto Reksosamudro sebagai Pejabat Menteri Panglima Angkatan Darat.


Melihat lemahnya situasi Pak Harto saat itu maka adalah suatu keajaiban besar bila hal itu dapat terjadi. Keputusan Pak Harto untuk menunggu kepastian dari Jenderal Nasution adalah keputusan yang cukup berani dan sangat brilian. Keputusan ini justru menunjukan jiwa satria seorang Suharto yang lebih memilih untuk menunggu panglimanya sebelum bertindak. Terbukti, Jenderal Nasution lah yang kemudian menjadi mentor kemenangan Pak Harto selanjutnya. Bergabungnya Angkatan Kepolisian dan Angkatan Laut juga dikarenakan Jenderal Nasution berada dipihak Pak Harto.

Bagaimana Pak Harto melakukannya? Pertama dia memastikan kewenangannya bertindak adalah sah dan tidak melawan hukum, yaitu dengan menghadap Soekarno pada tanggal 2 Oktober 1965 dan "menggertak" Soekarno dengan mengatakan karena Soekarno sudah mengangkat Pranoto, maka mulai saat itu Pak Harto sudah melepas tanggung jawab atas pemulihan keamanan akibat G30S dan menyerahkannya kepada Pranoto. Mendengar hal ini seorang Soekarno-pun panik sebab diapun sadar bahwa di antara Pranoto dan Soeharto adalah Soeharto yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk memulihkan situasi, apalagi Pak Harto-lah yang menyusun strategi dan memimpin penyerangan merebut Jogjakarta kembali dan memenangkan kemerdekaan Indonesia dari Belanda serta memimpin operasi militer tiga angkatan terbesar dalam sejarah yang berhasil merebut Papua Barat. Sedangkan Pranoto hanya jenderal administrasi yang lemah dan pro komunis.


Gertakan Pak Harto itu membuat Soekarno akhirnya mengeluarkan perintah lisan yang kemudian disiarkan melalui radio yang intinya kendali pemulihan keadaan adalah kewenangan Pak Harto sedangkan urusan sehari-hari angkatan darat diserahkan kepada Pranoto. Sejak saat itulah semua yang dikerjakan Pak Harto adalah atas perintah Soekarno, termasuk ketika membubarkan PKI, sehingga Hartono dan KKO-nya sama sekali tidak bisa berbuat banyak sebab menentang keputusan Pak Harto saat itu berarti menentang Soekarno.


Bahwa Soekarno mengizinkan Pak Harto membubarkan PKI tampak dari fakta bahwa dia tidak mencabut Supersemar atau membatalkan keputusan pembubaran PKI yang diambil oleh Pak Harto. Sukarno seolah lepas tangan. Sukarno seolah ingin menunjukan bila pembubaran PKI adalah keputusan dari Pak Harto.


Walaupun demikian, namun di kalangan Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang belum mengerti politik kerja sama antara Soekarno dan Pak Harto yang membubarkan PKI dan menangkap antek-antek PKI merasa Pak Harto telah melampaui kewenangannya sehingga mereka pernah meminta izin Soekarno untuk menyerang Pak Harto, bahkan KKO sudah siap menggerakan pasukan dari Tanjung Priuk namun dihentikan oleh Soekarno. Untuk mengatasi KKO dan Angkatan Udara ternyata tidak sulit bagi Pak Harto karena dia mampu mengganti pucuk pimpinan kedua Angkatan dengan orang-orang yang sepaham dan sepemikiran dengan dirinya. Jenius, mengalahkan lawan seperti pasukan elit KKO dan Angkatan Udara tanpa menumpahkan darah. Lagi-lagi pertunjukan menang tanpa pasukan yang sangat elegan dan sempurna ditunjukan oleh Pak Harto.


Kehebatan Pak Harto sebagai ahli strategi sebenarnya tidak perlu diherankan sebab dia menguasai dengan baik taktik perang modern ala Jepang dan digabung dengan taktik perang ala Jawa sehingga menghasilkan taktik perang ala Soeharto yang sulit dicari bandingannya terutama bila diaplikasikan di Indonesia. Tidak heran juga apabila di antara teman-teman seangkatan, tidak ada lagi yang memiliki pengalaman perang sementereng dan sedahsyat Pak Harto, dan yang lebih penting lagi dia tidak pernah kalah berperang, karena itu julukan yang diberikan Jenderal Soedirman kepada Pak Harto yaitu "Bunga Pertempuran" sesungguhnya tidak berlebihan.


Julukan "Bunga Pertempuran" sendiri diberikan kepada Pak Harto setelah kemenangan yang gilang gemilang dalam merebut Jogjakarta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang melegenda itu. Walaupun banyak kontroversi pencetusnya, namun dari semua fakta dan bukti yang ada hanya memungkinkan serangan tersebut adalah hasil pemikiran Pak Harto. Mengapa? Karena ide serangan umum sudah dijalankan hanya dua hari setelah Jogja diduduki Belanda, dan hal ini dikonfirmasi oleh George Kahin yang berada di Jogja saat itu. Alasan serangan umum adalah untuk membangkitkan semangat rakyat bahwa TNI masih ada dan memang serangan umum dilakukan berkali-kali dengan motivasi yang sama, dan serangan tanggal 1 Maret hanya puncaknya.


Semua teori pencetusan untuk mengklaim ide serangan umum baik oleh Hamengkubuwono IX, Bambang Soegeng, sampai Ventje Sumual adalah untuk serangan umum yang terakhir, lantas bagaimana dengan serangan-serangan umum sebelumnya? Hanya ada satu jawaban, pihak yang mempunyai ide dan melaksanakan eksekusi serangan-serangan umum tersebut adalah Pak Harto dan tidak mungkin Hamengkubuwono IX sebab beberapa hari setelah agresi militer Belanda, hubungan antara pihak Indonesia sempat terputus sehingga tidak mungkin ada koordinasi antara HB IX dengan pasukan Pak Harto untuk menyerang Jogja tanggal 29 Desember 1945.


Masih banyak eksploit-eksploit manuver militer brilian Pak Harto yang bisa dibahas, tetapi akan membuat artikel ini menjadi terlalu panjang, tapi yang jelas prestasinya selama berkarir menjadi militer memang pantas dianugrahi pangkat Jenderal Besar atau bintang lima.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar