Mungkin
tidak ada peristiwa yang lebih menunjukan kehebatan Pak Harto dalam berstrategi
dalam aksinya menumpas PKI dan G30S/PKI, terutama karena pada saat memulai Pak
Harto adalah seorang jenderal tanpa pasukan. Perlu diketahui bahwa ketika peristiwa
G30S Kostrad belum memiliki komando pasukan yang memadai. Bahkan lebih dari 50
batalyon pasukan Angkatan Darat sedang ditempatkan di Sumatra dan Kalimantan dalam
rangka konfrontasi dengan Malaysia,
sementara di pihak lawan memiliki 2000 pasukan dari divisi Brawijaya dan
Diponegoro ditambah ribuan sukarelawan Pemuda Rakyat dan Gerwani dan seluruh
Angkatan Udara Republik Indonesia yang mana Panglimanya, Omar Dhani adalah juga
panglima seluruh pasukan angkatan darat di Sumatra dan Kalimantan. Pada saat
itu Pak Harto hanya memiliki satu keyakinan untuk memenangkan pertarungan. Hal
ini didasari oleh pengalamannya sebagai veteran perang kemerdekaan Indonesia.
Keputusan Pak Harto untuk menunggu kepastian tentang selamat atau tidaknya
Jenderal Nasution juga menjadi kunci kemenangannya dalam menambah kekuatan
didalam pasukannya.
Pada tanggal
1 Oktober 1965, satu-satunya pasukan yang tersedia bagi Pak Harto dalam waktu
singkat adalah RPKAD pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Akan tetapi menarik
RPKAD ke kubu Kostrad bukanlah perkara mudah sebab secara hierarki komando,
RPKAD berada di bawah naungan Menpangad/KOTI dan secara hubungan pribadi Sarwo
Edhie adalah bagian dari klik Ahmad Yani dan hanya setia kepada Amad Yani.
Tidak heran apabila kemudian Sarwo Edhie tidak langsung menjawab panggilan Pak
Harto untuk masuk ke Kostrad, melainkan setelah kondisi semakin tidak menentu
barulah Sarwo Edhie datang menghadap ke Kostrad.
Usaha kedua
mendapatkan pasukan adalah dengan menarik kesetiaan pasukan brawijaya dan Diponegoro
yang dimanipulasi PKI. Saat itu hanya Brawijaya yang bersedia bergabung dengan
kostrad sedangkan komandan Diponegoro yang mempunyai kesetiaan kepada Letkol
Untung karena mereka kawan lama menolak dengan tegas dan kemudian mundur ke
Halim. Sementara itu Pak Harto juga berhasil mengamankan kerja sama dengan
Angkatan Kepolisian, dan Angkatan Laut melalui Jenderal AH Nasution. Keputusan
brilian Pak Harto yang membiarkan RRI dikendalikan G30S untuk memancing mereka
membuka jati diri mereka. Siaran Letkol Untung yang mendemisioner kabinet
Dwikora, menurunkan pangkat hingga setingkat dibawah Letkol dan mengambil alih
kekuasaan tertinggi kepada Letkol Untung dan Dewan Revolusinya malah membuat
peluang kemenangan Pak Harto menjadi semakin besar. Keputusan Pak Harto ini
terbukti cukup brilian. KKO pun merasa bila G30S telah mengkudeta Sukarno dan
mereka merasa terpanggil untuk mengamankan kedudukan Sukarno sebagai presiden
dan bergabung dibawah komando Pak Harto.
Selanjutnya
Divisi Diponegoro-pun bergabung dengan Kostrad setelah RRI dikuasai dan Halim
diserang RPKAD yang menandai berakhirnya G30S karena semua pemimpin gerakan
berpencar dan memulai mencari tempat persembunyian masing-masing. Saat itu Pak
Harto benar-benar dengan lihai mengamalkan strategi Jawa, menang tanpa pasukan.
Pasca G30S
bukan berarti Pak Harto bisa tenang, sebab walaupun sudah dapat dipastikan PKI
sudah habis dan tidak ada tempat untuk hidup di Indonesia, namun situasi saat
itu menjadi lebih rumit karena terdapat semacam kebingungan yang disebabkan
menjadi komunis diasosiasikan dengan menjadi Soekarnois yang timbul akibat
ajaran Nasakom. Bagi para Soekarnois, menghancurkan PKI berarti menghancurkan
ajaran Soekarno yang dapat dipastikan akan membangkitkan perlawanan para
Soekarnois, dan tentara yang Soekarnois jumlahnya jauh lebih banyak daripada
pasukan yang dimiliki Pak Harto, belum lagi mengingat kewenangan komando Pak
Harto sempat diputus Soekarno ketika mengangkat Pranoto Reksosamudro sebagai
Pejabat Menteri Panglima Angkatan Darat.
Melihat
lemahnya situasi Pak Harto saat itu maka adalah suatu keajaiban besar bila hal
itu dapat terjadi. Keputusan Pak Harto untuk menunggu kepastian dari Jenderal
Nasution adalah keputusan yang cukup berani dan sangat brilian. Keputusan ini
justru menunjukan jiwa satria seorang Suharto yang lebih memilih untuk menunggu
panglimanya sebelum bertindak. Terbukti, Jenderal Nasution lah yang kemudian
menjadi mentor kemenangan Pak Harto selanjutnya. Bergabungnya Angkatan Kepolisian
dan Angkatan Laut juga dikarenakan Jenderal Nasution berada dipihak Pak Harto.
Bagaimana
Pak Harto melakukannya? Pertama dia memastikan kewenangannya bertindak adalah
sah dan tidak melawan hukum, yaitu dengan menghadap Soekarno pada tanggal 2
Oktober 1965 dan "menggertak" Soekarno dengan mengatakan karena
Soekarno sudah mengangkat Pranoto, maka mulai saat itu Pak Harto sudah melepas
tanggung jawab atas pemulihan keamanan akibat G30S dan menyerahkannya kepada
Pranoto. Mendengar hal ini seorang Soekarno-pun panik sebab diapun sadar bahwa
di antara Pranoto dan Soeharto adalah Soeharto yang memiliki kapasitas dan
kapabilitas untuk memulihkan situasi, apalagi Pak Harto-lah yang menyusun
strategi dan memimpin penyerangan merebut Jogjakarta kembali dan memenangkan
kemerdekaan Indonesia dari Belanda serta memimpin operasi militer tiga angkatan
terbesar dalam sejarah yang berhasil merebut Papua Barat. Sedangkan Pranoto
hanya jenderal administrasi yang lemah dan pro komunis.
Gertakan Pak
Harto itu membuat Soekarno akhirnya mengeluarkan perintah lisan yang kemudian
disiarkan melalui radio yang intinya kendali pemulihan keadaan adalah
kewenangan Pak Harto sedangkan urusan sehari-hari angkatan darat diserahkan
kepada Pranoto. Sejak saat itulah semua yang dikerjakan Pak Harto adalah atas
perintah Soekarno, termasuk ketika membubarkan PKI, sehingga Hartono dan
KKO-nya sama sekali tidak bisa berbuat banyak sebab menentang keputusan Pak
Harto saat itu berarti menentang Soekarno.
Bahwa
Soekarno mengizinkan Pak Harto membubarkan PKI tampak dari fakta bahwa dia
tidak mencabut Supersemar atau membatalkan keputusan pembubaran PKI yang
diambil oleh Pak Harto. Sukarno seolah lepas tangan. Sukarno seolah ingin
menunjukan bila pembubaran PKI adalah keputusan dari Pak Harto.
Walaupun
demikian, namun di kalangan Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang belum
mengerti politik kerja sama antara Soekarno dan Pak Harto yang membubarkan PKI
dan menangkap antek-antek PKI merasa Pak Harto telah melampaui kewenangannya
sehingga mereka pernah meminta izin Soekarno untuk menyerang Pak Harto, bahkan
KKO sudah siap menggerakan pasukan dari Tanjung Priuk namun dihentikan oleh Soekarno.
Untuk mengatasi KKO dan Angkatan Udara ternyata tidak sulit bagi Pak Harto
karena dia mampu mengganti pucuk pimpinan kedua Angkatan dengan orang-orang
yang sepaham dan sepemikiran dengan dirinya. Jenius, mengalahkan lawan seperti
pasukan elit KKO dan Angkatan Udara tanpa menumpahkan darah. Lagi-lagi
pertunjukan menang tanpa pasukan yang sangat elegan dan sempurna ditunjukan
oleh Pak Harto.
Kehebatan
Pak Harto sebagai ahli strategi sebenarnya tidak perlu diherankan sebab dia
menguasai dengan baik taktik perang modern ala Jepang dan digabung dengan
taktik perang ala Jawa sehingga menghasilkan taktik perang ala Soeharto yang
sulit dicari bandingannya terutama bila diaplikasikan di Indonesia. Tidak heran
juga apabila di antara teman-teman seangkatan, tidak ada lagi yang memiliki
pengalaman perang sementereng dan sedahsyat Pak Harto, dan yang lebih penting
lagi dia tidak pernah kalah berperang, karena itu julukan yang diberikan
Jenderal Soedirman kepada Pak Harto yaitu "Bunga Pertempuran"
sesungguhnya tidak berlebihan.
Semua teori
pencetusan untuk mengklaim ide serangan umum baik oleh Hamengkubuwono IX,
Bambang Soegeng, sampai Ventje Sumual adalah untuk serangan umum yang terakhir,
lantas bagaimana dengan serangan-serangan umum sebelumnya? Hanya ada satu
jawaban, pihak yang mempunyai ide dan melaksanakan eksekusi serangan-serangan
umum tersebut adalah Pak Harto dan tidak mungkin Hamengkubuwono IX sebab
beberapa hari setelah agresi militer Belanda, hubungan antara pihak Indonesia
sempat terputus sehingga tidak mungkin ada koordinasi antara HB IX dengan
pasukan Pak Harto untuk menyerang Jogja tanggal 29 Desember 1945.
Masih banyak
eksploit-eksploit manuver militer brilian Pak Harto yang bisa dibahas, tetapi
akan membuat artikel ini menjadi terlalu panjang, tapi yang jelas prestasinya
selama berkarir menjadi militer memang pantas dianugrahi pangkat Jenderal Besar
atau bintang lima.